08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Pernahkah Ayah Bunda melihat pemandangan miris seperti ini?
Seorang anak SD yang cerdas, juara olimpiade matematika, dan fasih bahasa Inggris. Tapi saat di rumah, ia membentak asisten rumah tangga, cuek saat neneknya datang berkunjung, atau bahkan berani menyuruh orang tuanya dengan nada tinggi: "Ambilin minum dong! Buruan!"
Sakit hati mendengarnya? Pasti.
Di situlah kita sadar: Kepintaran tanpa Adab adalah Bencana.
Imam Malik pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy: "Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu."
Kenapa? Karena ilmu itu ibarat air hujan yang murni. Jika ditampung di wadah yang kotor dan retak (hati tanpa adab), air itu akan ikut kotor dan terbuang percuma.
Kita sering sibuk mendaftarkan anak les ini-itu, tapi lupa mengajarkan "kurikulum" terpenting: Sopan Santun.
Jangan biarkan sekolah saja yang bekerja. Rumah adalah madrasah pertama. Berikut adalah 4 SOP (Standar Operasional Prosedur) Adab yang bisa Ayah Bunda terapkan di rumah mulai hari ini.
Anak zaman sekarang kritis dan vokal. Itu bagus. Tapi seringkali batas antara kritis dan kurang ajar menjadi kabur.
Prakteknya: Buat aturan "Dengar Sampai Titik".
Saat Ayah/Bunda atau orang lain sedang bicara, anak dilarang memotong kalimat di tengah jalan. Mereka harus menunggu lawan bicara selesai (sampai titik), baru boleh merespons.
Hukumannya: Jika mereka memotong, hentikan percakapan. Tatap matanya, dan katakan lembut: "Bunda belum selesai bicara. Tunggu giliranmu." Jangan diladeni sampai mereka mau menunggu.
Ini adalah budaya ketimuran dan Islam yang mulai punah. Banyak anak sekarang berjalan tegak membusungkan dada di depan orang tua yang sedang duduk.
Prakteknya: Ajarkan gerak refleks "Permisi".
Setiap kali melewati orang yang lebih tua (termasuk ART atau tamu), anak wajib sedikit membungkukkan badan dan mengucapkan "Permisi" atau "Nuwun Sewu".
Latihan: Lakukan simulasi/roleplay di ruang tamu. Ayah duduk, anak diminta lewat. Ulangi sampai gerakannya luwes dan tidak kaku.
Seringkali kita memanggil anak, tapi matanya tetap terpaku ke layar HP sambil menyahut, "Apaan sih, Bun? Bentar lagi nanggung!" Ini adalah bibit kedurhakaan kecil.
Prakteknya: Terapkan aturan "Mata Ketemu Mata".
Saat nama mereka dipanggil, HP harus diletakkan (di meja atau kasur), badan harus berbalik menghadap pemanggil, dan mata harus menatap wajah orang tua.
Konsekuensinya: Jika dipanggil 2x tidak menoleh dan HP tidak diletakkan, HP disita selama 1 jam. Tegas di awal lebih baik daripada menyesal di akhir.
Makan sambil berdiri (standing party), makan dengan tangan kiri, atau mencela makanan ("Ih, kok sayur lagi!") sering dianggap sepele, padahal itu masalah adab yang serius.
Prakteknya:
Duduk: Tidak ada makanan/minuman yang masuk mulut jika pantat belum menempel di kursi/lantai.
Tangan Kanan: Ingatkan terus tanpa bosan.
Pantang Mencela: Jika tidak suka lauknya, ajarkan untuk diam dan makan nasi putihnya saja, atau puasa sunnah sekalian. Jangan biarkan lisan mereka terbiasa menghina rezeki Allah.
Ayah Bunda, mungkin terdengar kuno atau keras. Tapi percayalah, dunia kerja dan masyarakat di masa depan tidak hanya butuh orang pintar. Google sudah menyediakan semua informasi (ilmu).
Yang dunia butuhkan adalah orang yang bisa menghargai orang lain, punya integritas, dan tahu tata krama.
Anak yang beradab akan dimuliakan oleh penduduk langit dan disenangi oleh penduduk bumi. Mari kita mulai kurikulum ini sekarang juga. Jangan tunggu sampai mereka dewasa, karena menekuk bambu harus saat masih rebung.
Ingin anak Anda dididik di lingkungan yang tidak hanya mengejar nilai akademis, tapi menomorsatukan Adab dan Akhlak?
Al Lathif Islamic School menjadikan Adab sebagai fondasi utama kurikulum kami sebelum masuk ke materi sains dan teknologi. Kami mencetak generasi yang cerdas otaknya, santun perilakunya.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More