08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Coba bayangkan skenario ini:
Saat Anda membelikan mainan baru atau mengajak ke taman bermain, Anda tidak perlu berteriak menyuruh anak untuk senang. Mereka akan berlari, tertawa, dan matanya berbinar otomatis.
Tapi, kenapa saat azan berkumandang, skenarionya berubah 180 derajat?
Langkah kaki mereka berat, wajah ditekuk, dan keluarlah kalimat sakti: "Nanti dulu Bun, lagi nanggung level 5 nih!"
Lalu Anda mulai emosi, suara meninggi, dan akhirnya mereka shalat dengan gerakan super kilat (seperti ayam mematuk) hanya supaya omelan Anda berhenti.
Ayah Bunda, mari kita renungkan satu pertanyaan menyakitkan ini:
Jangan-jangan selama ini kita mengenalkan Shalat sebagai "Hutang", bukan sebagai "Kebutuhan"?
Kita sering mendoktrin: "Ayo shalat, kalau enggak nanti dosa/masuk neraka!"
Akibatnya, di otak anak tertanam persepsi: Shalat = Beban/Hukuman. Siapa yang bisa jatuh cinta pada hukuman?
Untuk membuat anak Jatuh Cinta, kita harus mengubah strateginya. Bukan dengan paksaan, tapi dengan Asosiasi Positif.
Berikut adalah 4 Trik Psikologis & Spiritual yang bisa Anda praktekkan mulai Maghrib nanti untuk membalikkan keadaan.
Trik 1: Respon 10 Detik Pertama (The "Yeay" Effect)
Anak adalah peniru ulung emosi orang tuanya.
Bagaimana reaksi Anda saat mendengar azan di rumah?
Apakah Anda menghela napas berat? "Hhh.. udah Isya lagi. Perasaan baru tadi Maghrib."
Atau Anda cuek dan tetap asyik nonton TV?
Jika respon Anda negatif/datar, anak akan menyimpulkan shalat itu gangguan.
Prakteknya: Mulai hari ini, saat azan terdengar, tunjukkan wajah sumringah/bahagia.
Katakan: "Alhamdulillah! Allah panggil kita. Yeay, asyik waktunya istirahat dari kerjaan!"
Efeknya: Anak bingung tapi penasaran. "Kok Bunda seneng banget ya mau shalat?" Lama-lama mereka akan menganggap shalat adalah hal yang menyenangkan.
Trik 2: Siapkan "VIP Lounge" (khusus anak perempuan)
Kita punya ruang tamu bagus, kamar tidur nyaman, tapi tempat shalat seringkali di sela-sela kasur atau di lorong sempit dengan sajadah yang bau apek.
Anak susah nyaman shalat kalau "tempat ketemunya" tidak kondusif.
Prakteknya: Buat satu sudut kecil di rumah sebagai Musholla Mini. Tidak perlu luas, yang penting bersih.
Tambahkan: Karpet empuk, wewangian (parfum/reed diffuser) yang aromanya menenangkan, dan mukena/sarung yang bersih dan wangi (jangan yang sudah kuning bagian lehernya!).
Efeknya: Otak anak akan merekam aroma wangi dan kenyamanan itu setiap kali shalat. Shalat menjadi healing time bagi mereka.
Trik 3: Ganti Posisi "Polisi Shalat" Menjadi "Teman Curhat"
Stop bertanya dengan nada interogasi: "KAMU UDAH SHALAT BELUM?!"
Itu membuat anak merasa dicurigai dan tidak dipercaya.
Prakteknya: Ganti kalimat perintah dengan ajakan atau pertanyaan reflektif.
Contoh: "Kak, Bunda lagi banyak pikiran nih. Temenin Bunda curhat sama Allah yuk, biar hati Bunda tenang."
Atau: Setelah shalat, jangan langsung lipat sajadah dan kabur. Duduklah 2 menit lagi. Peluk anak, tanya: "Tadi Kakak doa minta apa sama Allah? Ada yang lagi dipengenin gak?"
Efeknya: Shalat menjadi momen bonding antara Anak-Orang Tua-Allah. Mereka akan merindukan momen dipeluk dan didengar doa-doanya.
Trik 4: Rumus "Shalat Dulu, Baru..."
Kaitkan shalat dengan aktivitas yang paling mereka sukai (Prinsip Premack dalam psikologi).
Prakteknya: Jangan bilang "Berhenti main HP, shalat sana!" (Ini membuat Shalat jadi pemutus kesenangan).
Ganti dengan: "Oke, habis shalat nanti kita main lego bareng ya," atau "Abis shalat kita bikin mie rebus yuk."
Efeknya: Shalat menjadi jembatan menuju kebahagiaan berikutnya, bukan tembok penghalang.
Sabar, Ini Proses Menanam
Ayah Bunda, membuat anak cinta shalat tidak bisa instan seperti menyeduh mi. Ini adalah proses menanam benih iman.
Tugas kita bukan memaksa mereka gerakannya sempurna sekarang, tapi menjaga agar hatinya tidak lari dari sajadah. Biarkan mereka shalat karena merasa butuh Allah, bukan karena takut sapu lidi Bunda.
Coba 4 trik di atas secara konsisten selama 40 hari. Anda akan kaget melihat anak yang biasanya dipaksa, tiba-tiba menggelar sajadahnya sendiri sambil tersenyum.
Ingin anak Anda berada di lingkungan sekolah yang menghidupkan suasana ibadah dengan gembira, bukan paksaan?
Di Al Lathif Islamic School, kami menanamkan nilai shalat melalui keteladanan dan pembiasaan positif. Guru-guru kami mendampingi siswa shalat dengan kasih sayang, sehingga terbentuk karakter spiritual yang kokoh dari dalam hati, bukan sekadar rutinitas fisik.
Jadwalkan Kunjungan & Lihat Suasana Ibadah Kami
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More