08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Berikut adalah artikel lengkap dengan tambahan ucapan selamat di bagian akhirnya, siap untuk Anda post.
Mari kita bicara tentang penyakit paling mematikan di abad ini. Bukan kanker, bukan diabetes.
Tapi penyakit "Lo-Lo, Gue-Gue" (Kamu urus urusanmu, aku urus urusanku).
Kita sering merasa bangga saat anak kita duduk diam di kamar, main HP, tidak keluyuran, dan tidak bikin onar. Kita bilang: "Anak saya baik, anteng, gak pernah ganggu tetangga."
Hati-hati, Ayah Bunda.
Anteng bukan berarti baik. Tidak mengganggu bukan berarti bermanfaat.
Bisa jadi, kita sedang membesarkan Generasi Individualis. Generasi yang kalau melihat ada kecelakaan di jalan, bukannya menolong, malah sibuk merekam buat konten. Generasi yang kalau tetangganya kelaparan, dia asyik pesan makanan mahal lewat aplikasi tanpa menoleh sedikitpun.
Apakah ini standar sukses kita? Mencetak anak pintar tapi Nurani Sosialnya Mati?
Wabah "Bodo Amat" yang Mengerikan
Zaman sekarang, kepedulian dianggap "kepo". Menolong orang dianggap "pencitraan".
Akibatnya, anak-anak kita tumbuh dengan mindset menyeramkan: "Selama gak ngerugiin gue, itu bukan urusan gue."
Ini bahaya besar!
Individualisme adalah racun. Manusia didesain Allah bukan untuk hidup sendiri di dalam gua. Kita adalah makhluk sosial (Zoon Politicon).
Jika anak Anda pintar matematika tapi tidak punya empati pada teman yang kesusahan, Anda sedang membesarkan "Robot Pintar", bukan Manusia. Dan ingat, di masa tua nanti, anak individualis inilah yang akan menaruh Anda di Panti Jompo karena merasa merawat orang tua itu "mengganggu privasi" mereka.
Islam Melaknat Sikap Egois
Agama kita tidak turun untuk menciptakan pertapa yang sibuk ibadah sendirian.
Rasulullah SAW bersabda dengan tegas tentang standar kualitas manusia. Bukan yang paling kaya, bukan yang paling tinggi jabatannya.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (Khairunnas anfa'uhum linnas) - (HR. Ahmad).
Perhatikan! Syarat menjadi "Sebaik-baik Manusia" adalah MANFAAT.
Bagaimana bisa bermanfaat kalau keluar kamar saja malas? Bagaimana bisa bermanfaat kalau kenal tetangga saja tidak mau?
Allah memerintahkan kita untuk berjamaah.
"Tangan Allah bersama jamaah." (HR. Tirmidzi).
Serigala hanya akan memakan domba yang sendirian. Setan sangat menyukai manusia yang hidup nafsi-nafsi (sendiri-sendiri) karena mereka mudah dihancurkan.
Takwa itu bukan cuma Hablum Minallah (Shalat, Puasa), tapi juga Hablum Minannas (Peduli sesama). Shalat rajin tapi pelit dan cuek pada tetangga? Kata Nabi, dia tidak akan masuk surga!
Bangun Jembatan Peduli
Ayah Bunda, jangan biarkan "privasi" menjadi alasan untuk mematikan fitrah Kesetiakawanan Sosial anak. Lawan arus individualisme ini dengan langkah nyata di rumah:
1. Ajarkan "Hukum 40 Rumah"
Jangan biarkan anak tidak tahu nama tetangga samping rumah.
Dalam Islam, 40 rumah ke depan, belakang, kanan, dan kiri adalah saudara dekat.
Tugas: Suruh anak mengantar makanan ke tetangga. Biarkan dia mengetuk pintu, menyapa, dan memberikan senyum. Itu latihan mental melawan ego!
2. Stop Bilang "Jangan Ikut Campur"
Saat anak melihat temannya di-bully atau ada orang kesusahan, jangan bilang: "Udah biarin aja, jangan ikut campur nanti kamu kena masalah."
Ganti dengan: "Ayo kita bantu. Kita harus berbuat sesuatu."
Ajarkan mereka menjadi Problem Solver, bukan penonton pasif.
3. Berjamaah adalah Kunci Kekuatan
Paksa (dalam artian positif) anak laki-laki ke masjid. Bukan cuma buat shalat, tapi buat ketemu orang, salaman sama bapak-bapak, melihat kondisi umat.
Masjid adalah pusat anti-individualisme. Di sana, bahu si kaya dan si miskin saling menempel.
Kita Butuh Generasi Penopang, Bukan Penumpang
Dunia ini sudah penuh dengan orang pintar yang licik dan egois.
Yang kurang adalah orang yang hatinya bergetar saat melihat orang lain susah.
Jangan sampai anak kita menjadi "Penumpang" di bumi yang hanya menghabiskan oksigen dan makanan. Jadikan mereka "Penopang" yang kehadirannya ditunggu, dan ketiadaannya dirindukan.
Didiklah mereka untuk setia kawan, peka, dan ringan tangan. Karena sejatinya, itulah bekal terbaik mereka untuk selamat dunia akhirat.
🤝 Selamat Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional 🤝
Jadikan momentum ini sebagai titik balik. Runtuhkan tembok ego, ulurkan tangan.
Mari buktikan bahwa kita adalah bangsa yang hangat, bukan kumpulan individu yang dingin.
Mari berlomba-lomba menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama.
Ingin anak Anda tumbuh di lingkungan yang mengedepankan kebersamaan dan kepedulian sosial (Social Awareness)?
Di Al Lathif Islamic School, kami memiliki program Bakti Sosial Rutin dan kurikulum Leadership yang mewajibkan siswa membuat proyek sosial untuk masyarakat sekitar. Kami tidak hanya mencetak juara kelas, tapi mencetak Khoiru Ummah (Umat Terbaik) yang bermanfaat bagi sesama.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More