"Anak Laki-Laki Gak Boleh Nangis!" (Ayah, Stop Ucapkan Ini Sebelum Menyesal)

06 December 2025
img

"Ayo hapus air matanya! Malu sama tetangga. Anak laki kok cengeng? Kayak anak perempuan aja!"

Kalimat ini mungkin terdengar biasa. Mungkin dulu Ayah juga dibesarkan dengan kalimat ini oleh kakek. Tujuannya mulia: ingin mencetak anak laki-laki yang tangguh, kuat, dan tidak lembek menghadapi dunia.

Tapi, izinkan saya menyampaikan fakta yang tidak enak didengar:

Saat Ayah melarang anak laki-laki menangis, Ayah tidak sedang mencetak laki-laki kuat. Ayah sedang merakit "Bom Waktu" yang akan meledak di masa depan.

Ayah sedang mencetak laki-laki yang mati rasa, tidak punya empati, dan tidak tahu cara mengelola stres selain dengan amarah.

 

Mitos "Laki-Laki Kuat = Anti Air Mata"

Mari kita bedah logika ini.

Tuhan menciptakan kelenjar air mata (lacrimal gland) pada laki-laki dan perempuan. Fungsinya sama: membuang hormon stres (kortisol) dari tubuh saat sedih atau tertekan.

Jika Ayah menyumbat saluran pembuangan ini dengan gengsi, kemana larinya rasa sedih itu?

Dia tidak hilang. Dia mengendap di alam bawah sadar.

Anak laki-laki yang dilarang menangis akan tumbuh dengan keyakinan: "Sedih itu lemah. Kalau aku sedih, aku harus marah biar terlihat kuat."

Itulah kenapa banyak pria dewasa yang:

Meledak marah (abusive) hanya karena masalah sepele.

Lari ke rokok/narkoba saat stres.

Bingung saat istrinya menangis (malah membentak "Diam!", bukan memeluk).

Mati muda karena penyakit jantung (akibat memendam stres menahun).

Apakah ini definisi laki-laki sukses yang Ayah inginkan? Tentu bukan.

 

Rasulullah: Panglima Perang yang Menangis

Ayah, mari kita lihat role model laki-laki sejati dalam Islam: Rasulullah SAW.

Siapa yang meragukan kejantanan beliau? Beliau adalah panglima perang yang gagah berani di garis depan. Beliau pemimpin negara dan kepala keluarga yang tegas.

Tapi, apakah beliau gengsi menangis?

Beliau menangis hingga dadanya berguncang saat putranya, Ibrahim, wafat di pangkuannya.

Beliau menangis tersedu-sedu saat mendengar bacaan Al-Qur'an dari Ibnu Mas'ud.

Beliau menangis di makam ibundanya.

Ketika sahabat bertanya heran, "Wahai Rasulullah, engkau juga menangis?"

Beliau menjawab: "Ini adalah kasih sayang (rahmat) yang Allah tanamkan ke dalam hati hamba-hamba-Nya." (HR. Bukhari).

Jadi, jika Nabi yang paling gagah saja menangis, siapa kita berani bilang bahwa air mata adalah tanda kelemahan?

Justru, berani jujur dengan perasaan adalah tanda jiwa yang ksatria.

 

Tugas Ayah Bukan Membungkam, Tapi Mengarahkan

Anak laki-laki butuh validasi dari Ayahnya. Pelukan Ayah itu obat paling mujarab, lebih dari pelukan Ibu.

Saat jagoan kecil Ayah menangis karena lututnya berdarah atau mainannya rusak, jangan dimarahi. Lakukan ini:

1. Turunkan Ego, Berikan Bahu

Jongkok sejajar dengannya. Tatap matanya. Katakan: "Sakit ya, Bang? Sedih ya? Oke, Ayah di sini. Keluarin aja tangisnya."

Ini mengajarkan dia bahwa Ayahnya adalah tempat berlindung ( safe place ), bukan hakim yang menakutkan.

2. Ajarkan Definisi Kuat yang Baru

Setelah tangisnya reda, ajarkan ini: "Abang hebat sudah berani jujur kalau sedih. Laki-laki kuat itu bukan yang nggak pernah nangis, tapi yang bisa bangkit lagi setelah nangis."

3. Tunjukkan Emosi Ayah

Jangan jadi robot. Sekali-kali, biarkan anak melihat Ayah sedih atau terharu. Itu mengajarkan mereka bahwa Ayah juga manusia, dan punya perasaan itu manusiawi.

 

Cetaklah Pemimpin yang Punya Hati

Dunia ini sudah penuh dengan laki-laki kasar yang pintar berkelahi tapi miskin empati. Kita tidak butuh tambahan lagi.

Kita butuh generasi pemimpin (Qawwam) yang tegas dalam prinsip, tapi lembut hatinya pada sesama. Dan itu dimulai dari rumah.

Ayah, biarkan dia menangis hari ini dipelukanmu. Agar kelak saat dia dewasa, dia tidak membuat istri dan anak-anaknya menangis karena kekasarannya.

 

Ingin anak laki-laki Anda dididik menjadi pemimpin yang tangguh secara mental dan beradab?

Di Al Lathif Islamic School, kami memiliki program khusus kepemimpinan yang menyeimbangkan ketegasan (Leadership) dengan kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) sesuai teladan Rasulullah. Kami membantu Ayah Bunda mencetak generasi Rijal (Laki-laki sejati) yang sesungguhnya.