08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Bunda, izinkan saya bertanya dengan sedikit kasar:
Apakah Bunda bangga memiliki kantung mata hitam, rambut lepek tak terurus, dan baju daster yang bau bawang, sambil berkata: "Gapapa aku hancur, yang penting anak-anakku terurus"?
Jika Bunda mengangguk dan merasa itu adalah definisi "Ibu Sholehah" atau "Ibu Sempurna"... ANDA SEDANG TERTIPU.
Anda tidak sedang menjadi pahlawan. Anda sedang menjadi Bom Waktu.
Masyarakat kita (dan mungkin mertua/tetangga) sering mendoktrin bahwa Ibu yang baik adalah Ibu yang menderita. Ibu yang tidak punya kehidupan sendiri. Ibu yang makannya sisa anak.
Hari ini, mari kita hancurkan mitos beracun itu. Karena faktanya: Ibu yang "habis" (burnout) tidak akan bisa membesarkan anak yang bahagia.
โ MITOS:
"Kalau aku me time, ninggalin anak sebentar buat ngopi atau luluran, berarti aku ibu yang egois dan penelantun anak."
โ FAKTA:
Self-Care adalah Pertahanan Diri (Survival), Bukan Kemewahan.
Pernah naik pesawat? Pramugari selalu bilang: "Pasang masker oksigen Anda terlebih dahulu, baru bantu anak Anda."
Kenapa? Karena kalau ibunya pingsan kehabisan oksigen, anaknya PASTI celaka.
Sama di rumah. Kalau tangki cinta dan kewarasan Bunda kosong, apa yang mau Bunda kasih ke anak?
Bunda akan berubah menjadi Monster Bersumbu Pendek. Anak tumpahin air sedikit, Bunda bentak. Anak rewel, Bunda cubit.
Ujung-ujungnya? Bunda nangis menyesal. Anak trauma.
Jadi, merawat diri itu BUKAN egois. Itu adalah cara Bunda memastikan anak Bunda mendapatkan versi terbaik dari ibunya, bukan versi zombie-nya.
โ MITOS:
"Rumah harus kinclong, makanan harus masak sendiri 3 menu, baju harus licin. Kalau enggak, aku gagal."
โ FAKTA:
Anak Tidak Butuh Ibu Sempurna, Anak Butuh Ibu yang WARAS.
Riset psikologi membuktikan: Anak bisa merasakan micro-expression (ekspresi wajah mikro) dan detak jantung ibunya.
Jika Bunda masak makanan 4 sehat 5 sempurna tapi sambil stres, ngomel, dan banting panci, makanan itu menjadi racun kortisol bagi anak.
Anak lebih memilih makan telor ceplok tapi Ibunya senyum dan bisa diajak bercanda, daripada makan daging rendang tapi Ibunya mukanya ditekuk kayak kain kusut.
Berhentilah mengejar kesempurnaan yang semu. Turunkan standar kebersihan rumah demi menaikkan standar kesehatan mental Bunda.
Ini bagian yang paling menampar.
Anak belajar dari apa yang dia LIHAT, bukan yang dia dengar.
Jika anak perempuan Bunda melihat ibunya selalu menderita, tidak pernah menghargai diri sendiri, dan selalu mengalah...
Dia akan tumbuh dengan mindset: "Oh, jadi perempuan itu kodratnya menderita ya. Nanti kalau aku jadi ibu, aku juga harus menyiksa diri seperti Bunda."
Apakah itu warisan yang ingin Bunda berikan? Tentu tidak!
Tunjukkan pada mereka bahwa Bunda juga manusia yang berhak bahagia, punya hobi, dan dihargai. Itu mengajarkan mereka Self-Respect.
Self-care itu nggak harus ke salon mahal atau liburan ke Bali. Itu alasan klise. Self-care adalah tentang BATASAN (Boundaries).
Berani Bilang "Tolong":
Jangan sok kuat kerjain semua sendiri. Delegasikan ke suami. Cuci piring bukan tugas istri semata, itu tugas penghuni rumah. "Yah, tolong pegang adik 30 menit. Bunda mau mandi tenang tanpa digedor."
Nikmati "Micro-Break":
Saat anak tidur siang, JANGAN nyuci baju! Itu jebakan. Gunakan 15 menit pertama untuk duduk, minum teh hangat, dan diam. Baju kotor bisa nunggu, kewarasan Bunda nggak bisa.
Haramkan Rasa Bersalah:
Saat Bunda beli baju baru atau makanan enak buat diri sendiri, buang rasa bersalah itu ke tong sampah. Bunda pantas mendapatkannya karena Bunda sudah bekerja keras 24 jam!
Bunda, anakmu tidak akan ingat seberapa licin baju seragamnya.
Yang akan dia ingat sampai tua adalah: "Apakah Ibuku dulu sering tertawa? Apakah Ibuku bahagia membesarkanku?"
Jadi, tolong... demi anak-anakmu, bahagiakanlah dirimu sendiri dulu. Karena ibu yang bahagia adalah kunci surga yang nyata di dalam rumah.
๐บ Selamat Hari Ibu untuk Wanita Terkuat di Bumi ๐บ
Hari ini, berikan hadiah terbaik untuk dirimu sendiri yaitu Kewarasan dan Kebahagiaan. Bukan bunga, bukan cokelat, tapi izin untuk istirahat sejenak tanpa rasa bersalah. Terima kasih sudah berjuang setiap detik untuk keluarga. Kamu hebat, kamu berharga, dan kamu berhak bahagia.
Di Al Lathif Islamic School, kami memiliki program Parenting Support Group. Kami percaya bahwa pendidikan anak adalah kerjasama (sinergi). Kami sering mengadakan sesi sharing untuk menguatkan para Ibu agar tidak merasa sendirian dalam perjalanan pengasuhan ini.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qurโani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More