Kenapa Anak Lebih Nurut Sama Orang Lain Daripada Ibunya? (Jangan Baper Dulu, Ini Faktanya!)

03 December 2025
img

Pernahkah Bunda mengalami momen "nyesek" seperti ini?

Di rumah, Bunda menyuruh anak makan sayur sampai mulut berbusa, hasilnya? Anak tutup mulut rapat-rapat, bahkan melempar sendok.

Tapi begitu di sekolah, Bu Guru bilang: "Ayo Kakak makan sayurnya," eh... si Kecil langsung mangap dengan lahap sambil tersenyum manis.

Atau saat Bunda melarang lari-larian, anak makin jadi. Tapi begitu Satpam komplek yang menegur, dia langsung berhenti dan patuh.

Dalam hati, Bunda menjerit: "Ya Allah, kok sama orang lain dia nurut, sama Ibunya sendiri malah ngelawan? Apa aku gagal jadi Ibu? Apa dia nggak sayang aku?"

Tunggu dulu, Bunda. Hapus air mata itu.

Sebelum Bunda terjebak dalam rasa bersalah (Mom Guilt), mari kita bedah fenomena ini dengan kacamata psikologi. Apa yang Bunda pikirkan itu ternyata MITOS besar!

 

Myth-Busting: Membongkar Salah Paham

❌ MITOS:

"Anak lebih nurut sama orang lain karena dia lebih sayang/hormat sama orang itu, dan meremehkan Ibunya."

✅ FAKTA:

"Anak berani melawan Bunda justru karena dia merasa SANGAT AMAN (Secure Attachment) bersama Bunda."

Kaget kan? Mari kita jelaskan logikanya.

 

1. Teori "Tong Sampah Emosi" (Tanda Kelekatan Aman)

Bunda adalah "rumah" bagi anak.

Di luar rumah (sekolah/tempat umum), anak berusaha keras menahan diri, bersikap sopan, dan mengikuti aturan sosial. Itu melelahkan bagi otak mereka.

Begitu bertemu Bunda, mereka merasa: "Ah, ini tempat amanku. Aku tahu Bunda cinta mati sama aku. Bunda nggak akan ninggalin aku walaupun aku rewel, nangis, atau nolak makan."

Jadi, mereka melepaskan semua topeng "anak manis" itu di depan Bunda. Mereka menumpahkan semua emosi negatif mereka kepada Bunda. Kenapa? Karena mereka yakin cinta Bunda tak bersyarat.

Sebaliknya, mereka takut melawan Bu Guru atau orang asing karena mereka tidak punya jaminan keamanan emosional (Insecure) dengan orang tersebut. "Kalau aku nakal sama orang ini, nanti aku ditinggal/dimarahi."

Jadi, selamat ya Bun! Pembangkangan mereka (dalam batas wajar) adalah "sertifikat" bahwa Bunda telah berhasil membuat mereka merasa aman.

 

2. Konsistensi: Guru vs Bunda

Ini poin introspeksi. Kenapa anak nurut sama Guru? Karena Guru punya SOP yang Konsisten.

Kalau Guru bilang "Tidak boleh lari", maka konsekuensinya jelas dan tidak berubah.

Bandingkan dengan di rumah:

Jam 7 Bunda bilang: "Nggak boleh main HP!"

Jam 8 Bunda capek, lalu bilang: "Ya udah deh main sebentar, asal diem."

Anak itu cerdas. Mereka tahu Bunda bisa dinegosiasi (dan dimanipulasi) lewat rengekan. Sedangkan orang lain biasanya lebih tegas dan "tegaan". Jadi, ini bukan soal kurang sayang, tapi soal celah inkonsistensi yang anak temukan pada kita.

 

3. Fenomena "Restraint Collapse"

Pernahkah Bunda bersikap super ramah pada bos yang menyebalkan di kantor, tapi begitu sampai rumah, Bunda membentak Suami hanya karena handuk basah?

Itu namanya Restraint Collapse. Kita kehabisan energi untuk bersikap manis seharian, dan akhirnya meledak di tempat kita merasa paling nyaman.

Anak juga manusia. Seharian dia sudah capek menuruti aturan sekolah. Di rumah, dia ingin istirahat dari tuntutan "harus nurut". Dia ingin dimengerti, bukan diperintah terus.

 

Jangan Baper, Tapi Atur Strategi

Mengetahui fakta di atas bukan berarti kita membiarkan anak jadi pembangkang di rumah. Ini solusinya:

  • Ubah Mindset: Saat anak melawan, katakan pada diri sendiri: "Dia sedang merasa aman sama aku, bukan sedang membenciku." Ini akan meredakan emosi Bunda.
  • Perbaiki Konsistensi: Jadilah setegas Bu Guru tapi selembut Bunda. Kalau A ya A. Jangan berubah jadi B hanya karena anak menangis. Sekali Bunda tidak konsisten, wibawa Bunda turun.
  • Koneksi Dulu, Koreksi Kemudian: Karena anak sudah capek "nurut" sama orang lain seharian, saat di rumah, penuhi dulu tangki cintanya. Peluk dulu, ajak main dulu, baru suruh dia mandi/makan. Perintah tanpa koneksi hanya akan dianggap gangguan.

 

Bunda Tetap Juara di Hatinya

Bunda, tidak perlu cemburu pada Bu Guru atau Pengasuh.

Orang lain mungkin bisa membuat anak Bunda patuh sebentar, tapi hanya Bunda yang bisa membuat hatinya tenang selamanya.

Mereka patuh pada orang lain karena takut/segan. Mereka "nakal" pada Bunda karena cinta dan percaya.

Jadi, tersenyumlah. Bunda tidak gagal. Bunda justru adalah pelabuhan teraman mereka.

 

Butuh mitra pendidikan yang tidak hanya mendisiplinkan, tapi juga memperkuat bonding antara anak dan orang tua?

Di Al Lathif Islamic School, kami memposisikan diri sebagai mitra Ayah Bunda. Kami menanamkan adab Birrul Walidain (berbakti pada orang tua) di sekolah, sehingga kepatuhan yang anak pelajari di kelas akan mereka bawa pulang ke rumah sebagai bentuk kasih sayang pada Ayah Bundanya.

Yuk Jadwalkan Konsultasi Pendidikan & Trial Class