Khusus Ayah: Cara Bikin Jagoan Kecil 'Nagih' ke Masjid (Bukan Diseret!)

07 December 2025
img

Ayah, mari kita bicara sesama lelaki.

Pernahkah Ayah mengalami momen ini saat azan Maghrib berkumandang?

Ayah sudah siap, baju koko rapi, wangi. Lalu Ayah memanggil jagoan kecil Ayah untuk ikut ke masjid.

Responnya?

"Yaaah, nanti dulu nanggung main game!"

"Ayah aja deh, aku di rumah sama Bunda."

Atau dia mau ikut, tapi wajahnya cemberut dan jalannya diseret-seret sepanjang gang.

Rasanya pasti gemas campur sedih. Kita ingin anak laki-laki kita menjadi memakmur masjid, menjadi Rijal (lelaki sejati) yang hatinya terpaut pada rumah Allah. Tapi kenapa mengajaknya sesulit menyeret batu karang?

Ayah, ketahuilah satu rahasia ini:

Anak laki-laki tidak jatuh cinta pada Perintah, mereka jatuh cinta pada Petualangan dan Kebersamaan.

Jika Ayah ingin anak laki-laki nagih ke masjid tanpa dipaksa, ubah momen "pergi shalat" menjadi momen "bonding laki-laki". Berikut adalah 4 Strategi "Bro-Code" yang bisa Ayah terapkan.

 

1. Ritual "Ganteng Bareng" (Wewangian adalah Kunci)

Anak laki-laki suka merasa dewasa. Mereka suka meniru Ayahnya.

Jangan cuma suruh dia ambil wudhu. Ajak dia bersiap-siap layaknya pria dewasa.

Triknya: Pakaikan baju koko terbaiknya (jangan kaos oblong kumal!). Sisir rambutnya. Dan ini yang paling penting: Pakaikan Parfum Ayah.

Katakan: "Sini Abang, pakai parfum Ayah dulu biar wangi dan ganteng kayak Rasulullah. Kalau mau ketemu Allah harus style paling keren."

Efeknya: Dia merasa naik level. Dia merasa sejajar dengan Ayahnya. Wangi parfum itu akan menanamkan memori di otaknya: Masjid = Wangi & Gagah.

 

2. Jadikan Perjalanan sebagai "Misi Rahasia"

Jangan jadikan perjalanan ke masjid itu hening dan kaku.

Jika jalan kaki, gandeng tangannya. Rasakan genggaman tangan mungil itu selagi masih bisa (nanti kalau sudah SMP dia bakal malu digandeng, Yah!).

Triknya: Obrolkan hal-hal "laki-laki" di jalan. Bahas bola, bahas mobil, atau bahas superhero.

Atau: Jika naik motor, jadikan itu mini touring. "Ayo Bang, kita ngeeng ke rumah Allah!"

Efeknya: Dia tidak merasa sedang digiring ke tempat membosankan, tapi sedang diajak jalan-jalan sama idola pertamanya (Ayah).

 

3. Aturan Emas: "Pantang Marah di Rumah Allah"

Ini kesalahan fatal banyak Ayah. Di masjid, anak bergerak sedikit, Ayah melotot. Anak bercanda dikit, dicubit. Pulang masjid, anak dimarahi habis-habisan.

Hasilnya? Trauma Masjid. Dia akan mengingat masjid sebagai tempat yang menakutkan dimana dia selalu salah.

Ingatlah: Rasulullah SAW membiarkan cucunya (Hasan & Husein) menaiki punggung beliau saat sujud. Beliau tidak marah, bahkan memperlama sujudnya.

Triknya: Selama dia tidak teriak-teriak atau mengganggu kekhusyukan orang lain secara parah, biarkan dia menikmati suasananya. Kalau mau menegur, tegurlah dengan bisikan lembut: "Sstt, jagoan Ayah suaranya dikecilin dikit ya."

 

4. "Upah" Setelah Misi Selesai

Ini jurus pamungkas. Kuncinya adalah Asosiasi Positif.

Buat dia berpikir: Habis dari masjid = Ada hal enak.

Triknya: Sempatkan mampir ke warung atau pedagang keliling sepulang shalat. Belikan cilok, es krim, atau susu kotak.

Katakan: "Alhamdulillah, Abang tadi shalatnya hebat. Tos dulu! Yuk kita jajan dulu sebagai hadiah."

Efeknya: Percayalah Yah, minggu depan, sebelum azan dia sudah akan mandi dan nanya: "Ayah, ayo ke masjid lagi yuk!" (Walau motif awalnya jajan, lama-kelamaan iman akan tumbuh seiring kebiasaan).

 

Warisan Punggung Ayah

Ayah, suatu saat nanti, kita akan tiada.

Apa yang akan diingat anak laki-laki kita?

Semoga yang dia ingat adalah momen berjalan di belakang punggung Ayah menuju masjid. Wangi parfum Ayah yang menempel di baju kokonya. Dan rasa hangat genggaman tangan Ayah.

Itulah warisan yang akan menjaganya tetap sujud, bahkan ketika Ayah sudah tidak ada di sampingnya lagi untuk mengingatkan.

Jadilah Ayah yang asyik. Jadilah alasan dia mencintai Rabb-nya.

 

Ingin Jagoan Ayah tumbuh dalam lingkungan yang mendukung kebiasaan shalat berjamaah sejak dini?

Di Al Lathif Islamic School, kami mewajibkan siswa laki-laki untuk shalat berjamaah dan berlatih menjadi muadzin serta imam secara bergilir. Kami bermitra dengan Ayah untuk mencetak pemimpin masa depan yang hatinya terpaut pada Masjid.

Daftarkan Jagoan Ayah Sekarang