08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Mari kita bedah satu kalimat paling beracun yang sering diucapkan orang tua zaman sekarang:
"Ah, lebay! Dulu ayah/bunda waktu kecil dipukul pakai sapu lidi, dikurung di kamar mandi, dimaki-maki orang tua, buktinya sekarang sukses dan baik-baik saja kok!"
Benarkah Anda baik-baik saja?
Atau Anda hanya sedang berbohong untuk membenarkan kekejaman Anda pada anak sendiri?
Coba kita cek "baik-baik saja" versi Anda:
Jika jawabannya YA, maka maaf: Anda TIDAK baik-baik saja.
Anda sedang terluka. Dan parahnya, Anda sedang menumpahkan darah kepada anak-anak yang bahkan tidak melukai Anda.
Psikologi menyebutnya Intergenerational Trauma. Bahasa gampangnya Korban yang menjadi Pelaku.
Dulu, saat kecil, Anda merasa tidak didengar, tidak dihargai, dan disakiti secara verbal/fisik oleh orang tua Anda. Itu sakit sekali.
Tapi karena Anda tidak punya kekuatan untuk melawan, Anda menekan rasa sakit itu ke alam bawah sadar. Anda menormalisasinya: "Oh, ini cara mendidik biar disiplin."
Sekarang, saat Anda punya kuasa (menjadi orang tua) dan melihat anak Anda melakukan kesalahan kecil, "monster" masa lalu itu bangkit.
Anda tidak memukul anak Anda karena dia nakal. Anda memukulnya untuk melampiaskan dendam masa kecil Anda yang belum tuntas.
Sadarilah, ini mengerikan. Rumah yang seharusnya jadi surga, berubah menjadi arena balas dendam.
Mari kita lihat contoh nyata yang sering terjadi di balik pintu rumah yang tertutup rapat. Apakah Anda melihat diri Anda di sini?
1. Si Perfeksionis yang Gila Nilai
Kejadian: Anak pulang membawa nilai 80.
Respon Anda: "Kenapa cuma 80? Temanmu ada yang dapat 100 nggak? Kamu pasti kurang belajar!"
Akar Masalah: Dulu, orang tua Anda hanya menghargai Anda kalau Anda berprestasi. Kalau nilai jelek, Anda dianggap sampah. Sekarang, Anda menuntut anak Anda sempurna agar ANDA merasa sukses sebagai orang tua. Anak Anda jadi trofi ego Anda.
2. Si Hobi Banding-Banding
Kejadian: Anak tetangga juara lomba azan.
Respon Anda: "Tuh liat si Budi, pinter ngaji, nurut. Lah kamu? Main HP terus!"
Akar Masalah: Dulu Anda selalu dibanding-bandingkan dengan kakak/adik/sepupu. Rasanya sakit, kan? Tapi anehnya, sekarang Anda mengulangi kalimat menyakitkan itu ke anak Anda sendiri.
3. Si "Silent Treatment" (Mendiamkan)
Kejadian: Anak berbuat salah.
Respon Anda: Anda mendiamkan dia berhari-hari. Wajah ditekuk, tidak mau menyahut panggilannya, menganggap dia tidak ada.
Akar Masalah: Ini adalah bentuk manipulasi emosi paling kejam. Dulu, mungkin tangisan Anda sering diabaikan. Sekarang Anda menggunakan "pengabaian" sebagai senjata untuk menghukum mental anak.
Ayah Bunda, cukup.
Jangan biarkan rantai setan ini berlanjut ke anak dan cucu kita nanti.
Menjadi orang tua bukan sekadar memberi makan dan bayar sekolah. Menjadi orang tua adalah perjalanan menyembuhkan diri sendiri.
Mengakui bahwa kita punya luka pengasuhan bukanlah aib. Itu adalah langkah pertama menuju taubat.
Permintaan maaf tidak akan menjatuhkan wibawa Anda. Justru di mata anak, Anda akan terlihat sebagai pahlawan yang berani mengakui kesalahan.
Ingatlah sabda Nabi SAW: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah..."
Anak Anda lahir dengan hati seputih kertas. Jangan coret kertas itu dengan tinta hitam trauma masa lalu Anda.
Anda tidak bisa mengubah masa lalu Anda. Anda tidak bisa mengubah cara orang tua Anda dulu mendidik Anda.
Tapi Anda punya kuasa penuh untuk mengubah masa depan anak Anda.
Jadilah orang tua yang Anda butuhkan saat Anda kecil dulu.
Jadilah pemutus rantai. Biarkan trauma itu berhenti di Anda, dan biarkan cinta yang mengalir ke anak Anda.
Di Al Lathif Islamic School, para pendidik kami dilatih untuk memahami psikologi anak dan parenting yang menyembuhkan. Kami bermitra dengan orang tua untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang memanusiakan manusia, sesuai tuntunan Rasulullah.
Hubungi Kami untuk Sinergi Kebaikan
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More