Membedakan 'Strict Parents' vs Orang Tua Tegas (Hati-Hati, Anak Patuh Belum Tentu Sehat Mental!)

05 December 2025
img

Sering kita dengar orang tua berkata dengan bangga:

"Saya memang 'Strict Parents'. Anak saya harus nurut 100%, gak boleh ada tawar menawar. Biar disiplin!"

Mereka merasa sukses karena anaknya diam, patuh, dan tidak pernah membantah di rumah.

Tapi tahukah Anda?

Di balik kebisuan anak itu, tersimpan bom waktu.

Anak dari Strict Parents (Pola Asuh Otoriter) seringkali tumbuh menjadi Pembohong Ulung di luar rumah. Mereka patuh bukan karena mengerti, tapi karena takut "habis" di tangan Anda.

Sementara itu, menjadi Orang Tua Tegas (Authoritative) adalah seni menyeimbangkan aturan dengan kehangatan.

Mari kita bedah perbedaannya agar kita tidak terjebak menjadi "Diktator" di rumah sendiri.

 

1. Komunikasi: "Satu Arah" vs "Dua Arah"

Strict Parents (Otoriter):

Menggunakan prinsip "Pokoknya!" atau "Karena Bunda bilang begitu!"

Anak tidak boleh bertanya "Kenapa?". Jika bertanya, dianggap membangkang atau kurang ajar. Pendapat anak dibungkam.

Orang Tua Tegas:

Membuka ruang diskusi, tapi tetap memegang kendali keputusan.

"Kak, HP dikumpulkan jam 9 malam ya. Kenapa? Karena Kakak butuh tidur cukup biar besok sekolahnya segar. Ada keberatan?"

Anak didengar, dijelaskan alasannya, baru aturan ditegakkan.

 

2. Saat Anak Berbuat Salah: "Menghukum" vs "Konsekuensi"

Strict Parents (Otoriter):

Fokus pada Hukuman yang menyakiti (fisik/verbal) untuk melampiaskan emosi orang tua.

"Dasar ceroboh! Kamu Bapak kurung di kamar mandi!"

Tujuannya membuat anak menderita supaya kapok.

Orang Tua Tegas:

Fokus pada Konsekuensi yang logis dan edukatif.

"Kakak menumpahkan susu karena lari-larian. Sekarang ambil lap, bersihkan sampai kering. Itu tanggung jawab Kakak."

Tujuannya mengajarkan tanggung jawab (mas'uliyah), bukan rasa sakit.

 

3. Hasil Akhir: "Robot" vs "Manusia Berakal"

Strict Parents (Otoriter):

Mencetak anak yang Kucing-kucingan.

Di depan orang tua mereka seperti malaikat (karena takut). Di belakang? Mereka akan melanggar semua aturan dengan liar karena merasa "bebas dari penjara". Mereka tidak punya kontrol diri, hanya punya ketakutan.

Orang Tua Tegas:

Mencetak anak yang Punya Integritas.

Mereka tidak mencuri kue bukan karena takut dipukul Bunda, tapi karena mereka paham bahwa mencuri itu salah dan merugikan. Mereka tetap berbuat baik meski tidak ada yang melihat (Muraqabah).

 

Belajar dari Nabi Ibrahim AS: Tegas tapi Dialogis

Dalam Islam, ketegasan itu wajib, tapi otoriter itu dilarang.

Lihatlah Nabi Ibrahim AS. Saat menerima perintah Allah untuk menyembelih Ismail, beliau tidak langsung menyeret anaknya.

Beliau bertanya dulu (Dialog): "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?" (QS As-Saffat: 102).

Bayangkan! Nabi saja bertanya pendapat anaknya untuk urusan nyawa.

Kenapa kita yang cuma urusan milih baju atau jurusan kuliah main paksa tanpa mau mendengar suara anak?

 

Checklist: Anda di Kubu Mana?

Coba cek diri sendiri hari ini:

Apakah anak sering curhat masalahnya pada Anda? (Jika Tidak, hati-hati).

Apakah anak berani mengakui kesalahannya tanpa gemetar ketakutan? (Jika Tidak, Anda mungkin terlalu strict).

Apakah Anda lebih sering membentak daripada memeluk?

 

Jadilah Pemimpin, Bukan Penguasa

Ayah Bunda, ubahlah haluan.

Tegas itu membangun karakter. Strict itu mematikan karakter.

Jadilah orang tua yang disegani karena wibawa dan kasih sayang, bukan ditakuti karena teriakan dan ancaman. Anak yang tumbuh dengan ketegasan yang hangat akan menjadi pemimpin yang adil di masa depan.

 

Mencari sekolah yang menerapkan disiplin positif (Positive Discipline), bukan hukuman fisik?

Di Al Lathif Islamic School, kami menerapkan aturan yang tegas namun humanis. Kami mendidik siswa untuk disiplin karena kesadaran diri (Self-Discipline), bukan karena takut pada guru. Kami bermitra dengan orang tua untuk menyelaraskan pola asuh di rumah dan sekolah.

[Info Pendaftaran & Konsultasi Parenting]