08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Maaf jika tulisan ini terdengar kasar. Tapi seseorang harus mengatakannya kepada Anda:
Setiap kali Anda membentak anak dengan kalimat "Ssstt! Diam! Jangan nangis! Gitu aja kok cengeng!"...
Saat itu juga, Anda tidak sedang mendidik mentalnya menjadi kuat. Anda sedang melatihnya menjadi orang dewasa yang mati rasa, rapuh, dan tidak punya empati.
Terdengar berlebihan? Mari kita bedah realitas pahitnya.
Jujurlah pada diri sendiri. Saat anak menangis kencang di tempat umum atau di rumah, kenapa kita panik menyuruhnya diam?
Apakah karena kita peduli perasaannya? Bukan.
Kita menyuruh diam karena kuping kita risih. Kita malu dilihat orang. Kita tidak tahan mendengar suara bising.
Kita mengorbankan perasaan anak demi kenyamanan telinga kita sendiri. Kita menutup mulutnya, padahal hatinya sedang berdarah. Itu bukan pendidikan, itu pembungkaman.
Ketika anak jatuh, lututnya berdarah, dan menangis sakit, lalu kita bilang: "Udah diam, gak sakit kok. Anak laki gak boleh nangis!"
Sadarkah Anda? Anda sedang melakukan Gaslighting (memanipulasi realitas) pada anak sendiri.
Otak anak merekam pesan mengerikan ini:
"Perasaanku ternyata salah." (Padahal jelas-jelas sakit).
"Menunjukkan emosi itu aib/lemah."
"Orang tuaku tidak mau menerima aku kalau aku sedih."
Hasilnya? Anak tumbuh menjadi remaja yang memendam masalah. Mereka tidak akan curhat pada Anda saat di-bully atau patah hati, karena alam bawah sadar mereka berkata: "Ah, percuma bilang Ayah Bunda, paling disuruh diam."
Mereka menjadi "Zombie Emosi". Kelihatannya tenang, tapi meledak mengerikan saat dewasa (depresi, self-harm, atau menjadi pelaku kekerasan).
Siapa bilang Islam mengajarkan kita harus "Tough" dan anti-nangis? Itu ajaran Toxic Masculinity, bukan ajaran Nabi.
Lihatlah Rasulullah SAW. Manusia paling mulia, panglima perang paling gagah. Apakah Beliau gengsi menangis?
Tidak! Beliau menangis hingga dadanya berguncang saat putranya, Ibrahim, wafat. Beliau menangis saat mendengar ayat azab. Bahkan Nabi Yaqub AS menangis karena rindu pada Yusuf AS hingga matanya memutih (buta).
Nabi bersabda: "Air mata ini adalah rahmat (kasih sayang) yang Allah tanamkan dalam hati hamba-hamba-Nya."
Jadi, jika Nabi saja menangis, siapa kita berani melarang anak kecil meneteskan air mata?
Mulai detik ini, buang kalimat "Jangan Nangis" ke tong sampah. Ganti dengan kalimat yang memvalidasi, bukan mengintimidasi.
1. Ganti "Jangan Nangis!" dengan "Ayah/Bunda Ada di Sini."
Jangan suruh berhenti. Temani saja. Kehadiran fisik Anda lebih keras suaranya daripada nasihat apapun.
Tujuannya: Memberi rasa aman.
2. Ganti "Cengeng Ah!" dengan "Sakit ya? Sedih ya? Oke, Keluarin Aja."
Izinkan mereka meluapkan emosinya sampai tuntas. Ibarat nanah, kalau tidak dikeluarkan, malah jadi infeksi. Biarkan tangisnya habis, baru dia akan lega.
Tujuannya: Validasi emosi.
3. Ganti "Malu Dilihat Orang" dengan "Gapapa, Menangis Itu Manusiawi."
Ajarkan bahwa menangis adalah mekanisme tubuh membuang racun stres (kortisol). Setelah menangis, otak akan lebih jernih.
Tujuannya: Edukasi fitrah.
Anda bisa terus memaksa anak diam agar Anda merasa hebat dan berkuasa. Anak mungkin akan patuh dan diam, tapi hatinya menjauh dari Anda selamanya.
Atau, Anda bisa tahan ego Anda, peluk dia saat menangis, dan biarkan dia tahu bahwa Anda adalah "rumah" tempatnya pulang saat dunia sedang jahat.
Pilihan ada di tangan Anda. Jangan sampai Anda bertanya-tanya saat tua nanti: "Kenapa anakku tidak pernah meneleponku?" Jawabannya mungkin ada pada momen-momen saat Anda membungkam tangisannya hari ini.
Ingin anak Anda dididik oleh guru-guru yang paham psikologi perkembangan dan tidak mematikan fitrah emosinya?
Di Al Lathif Islamic School, kami haramkan membentak dan mempermalukan emosi siswa. Kami mendidik dengan hati, agar mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat mentalnya, bukan yang rapuh jiwanya.
Daftar Sekarang - Sebelum Kuota Penuh
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More