08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Di tengah kesibukan dunia modern, artikel ini mengajak para orang tua untuk menemukan kembali keajaiban dari sebuah ritual sederhana: doa bersama keluarga. Ini bukan sekadar tentang membentuk kebiasaan shalat, melainkan tentang menenun kenangan hangat, membuka ruang curhat spiritual bagi anak, dan menanamkan pondasi cinta kepada Allah dalam suasana keluarga yang penuh kasih. Lewat tips yang realistis dan menyentuh hati, orang tua dibimbing untuk menjadikan momen doa sebagai jangkar spiritual yang mengikat keluarga lebih erat.
Pintu kamar dibanting. Terdengar isak tangis dari dalam karena rebutan krayon dengan sang kakak. Di ruang keluarga, si kakak juga cemberut karena merasa mainannya direbut. Pemandangan yang akrab, bukan? Sebagai orang tua, kita sering merasa pusing, lelah, dan bertanya-tanya, “Harus bagaimana lagi, ya?”
Di tengah kesibukan kita memastikan mereka pintar di sekolah, hafalannya lancar, dan nilainya bagus, seringkali kita lupa pada sebuah "kurikulum" tak tertulis yang justru paling menentukan masa depan mereka yakni kurikulum hati. Inilah yang kita sebut kecerdasan emosi dan empati.
Anda mungkin sudah mencoba berbagai cara, berkonsultasi ke sana kemari, dan mencari metode terapi terbaik. Tapi, pernahkah Anda membayangkan bahwa solusi paling mendalam dan transformatif untuk buah hati Anda mungkin tersembunyi di tempat yang tak terduga? Bukan di ruang terapi konvensional, melainkan di dalam lantunan suci ayat-ayat Al-Qur'an.
Ini bukan sekadar artikel "motivasi biasa". Ini adalah panduan debugging—cara kita mencari, memahami, dan memperbaiki error dalam "kode" pikiran kita, dengan pendekatan psikologi yang dibungkus dengan prinsip keren dari agama kita. Siap? Mari kita mulai.
Ayah / bunda mungkin pernah merenung, apa gerangan yang membuat seorang anak merasa nyaman untuk membuka diri dan menceritakan segala hal kepada orang tuanya? Apakah itu mainan mahal, liburan mewah, atau nasihat-nasihat bijak yang kita sampaikan? Ternyata, "rahasia" itu mungkin jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan. Intinya terletak pada satu hal fundamental: mendengarkan dengan hati, bukan hanya telinga.
Masa prasekolah adalah periode emas dalam perkembangan anak. Pada usia ini, otak anak sedang berkembang pesat dan sangat responsif terhadap berbagai stimulus. Salah satu cara yang efektif untuk merangsang perkembangan otak anak adalah dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bermain dan bereksplorasi.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More