08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Pagi hari yang sibuk. Jarum jam terus bergerak, sementara si kecil di depan pintu masih berkutat dengan sepatunya. Kaki kanannya masuk ke sepatu kiri, tali perekatnya menempel miring, dan wajahnya menunjukkan perpaduan antara konsentrasi penuh dan frustrasi.
Apa yang biasanya kita lakukan sebagai orang tua? Dengan sigap kita berlutut, melepas sepatu yang salah, dan dalam lima detik, kedua sepatu sudah terpasang rapi di kakinya. Sambil berkata, "Sudah, biar Bunda/Ayah saja, nanti telat."
Tadabur Alam. Ini bukan sekadar piknik atau jalan-jalan biasa, melainkan sebuah seni "membaca" alam sebagai buku terbesar ciptaan Allah. Temukan bagaimana sebuah kegiatan sederhana seperti mengamati semut atau menatap awan bisa menyuburkan iman anak, mengasah kecerdasannya, sekaligus menjadi terapi penenang jiwa. Dengan resep praktis yang mudah diikuti, mari jadikan alam sebagai ruang kelas tanpa dinding untuk menumbuhkan rasa syukur dan cinta kepada Sang Pencipta.
Pernahkah Anda sampai di satu titik di mana kata "lelah" bahkan tidak cukup untuk menggambarkannya? Saat tumpukan pekerjaan, ekspektasi sosial, dan badai pikiran internal terasa seperti tembok raksasa yang mustahil didaki. Napas terasa sesak, bahu memberat, dan motivasi menguap entah ke mana. Kita menyebutnya burnout, stres kronis, atau sekadar "lagi banyak pikiran".
Merasa bingung bagaimana cara menstimulasi kreativitas anak tanpa harus membeli mainan mahal? Artikel ini akan mengubah sudut pandang Anda. Temukan bagaimana benda-benda paling sederhana di rumah—mulai dari kardus bekas, bumbu dapur, hingga daun kering di halaman—bisa menjadi "harta karun" yang membuka gerbang imajinasi anak. Lewat ide-ide praktis dan menyenangkan, tulisan ini mengajak orang tua untuk mengubah setiap sudut rumah menjadi arena bermain tanpa batas yang melatih anak menjadi pemecah masalah yang andal, inovator cilik, dan pribadi yang tak pernah kehabisan akal.
Sebagai orang tua, kita sering diuji oleh amarah dan kekecewaan anak. Namun, bagaimana jika Sabar dan Memaafkan bukanlah kelemahan, melainkan dua "kekuatan super" yang bisa kita ajarkan? Artikel ini mengupas cara mengubah dua konsep ini dari nasihat klise menjadi keterampilan praktis yang membebaskan. Temukan resep jitu mengubah rumah menjadi "gym" untuk melatih otot sabar dan pemaaf pada anak, membekali mereka bukan hanya dengan akhlak mulia, tetapi juga dengan hati yang ringan dan jiwa yang tangguh untuk menghadapi dunia.
Hati orang tua mana yang tidak hancur membayangkan anaknya pulang sekolah dengan langkah gontai, duduk menyendiri di pojok kamar, dan menyimpan kesedihan yang tak terucap? Gambaran ini adalah mimpi buruk kita semua. Saat tahu anak kita menjadi sasaran perundungan atau bullying, insting pertama kita mungkin ada dua: marah besar dan ingin melabrak si pelaku, atau justru menyuruh anak untuk "sabar saja" dan "diamkan saja".
Keduanya lahir dari rasa cinta, namun keduanya seringkali tidak cukup. Ada jalan ketiga yang lebih memberdayakan. Jalan yang tidak membentuk anak kita menjadi korban yang pasrah, juga bukan menjadi perundung baru yang agresif.
Jalan itu adalah membekali mereka untuk menjadi ksatria pemberani. Ksatria yang punya perisai di hati, keberanian dalam suara, dan kebijaksanaan dalam bertindak.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More