08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Merasa anggota keluarga sering sibuk dengan gadget masing-masing meski sedang duduk di ruangan yang sama? Digital detox, sebuah misi untuk mencabut 'colokan' dunia maya demi menyambung kembali 'koneksi' hati antar anggota keluarga. Bagian pertama ini tidak akan langsung menyuruh Anda mematikan gawai, melainkan akan mengajak Anda memahami mengapa jeda ini penting dan memberikan panduan langkah demi langkah untuk mempersiapkan "misi" ini bersama seluruh keluarga, agar detox terasa seperti petualangan,
Rasa marah yang membakar di dada adalah emosi yang kita semua pernah rasakan. Namun, bagaimana jika ada "resep" untuk mendinginkannya sebelum ia meledak? Artikel ini mengajak kita untuk menyelami seni mengendalikan amarah, bukan dari buku psikologi modern, melainkan langsung dari teladan manusia terbaik, Rasulullah SAW. Temukan jurus-jurus praktis dan spiritual yang diajarkan Beliau—mulai dari mengubah posisi tubuh hingga berwudhu—sebagai panduan bagi kita para orang tua untuk menaklukkan amarah sendiri, sekaligus menjadi bekal berharga untuk mengajarkan kecerdasan emosional pada anak-anak kita.
Daripada sekadar bertanya "mau jadi apa?", bagaimana jika kita mengajak anak memetakan "mau jadi orang seperti apa?". Artikel ini mengubah konsep vision board dari sekadar papan tempelan impian menjadi sebuah "Peta Harta Karun" untuk hati anak. Temukan panduan langkah-demi-langkah yang seru untuk membantu anak memvisualisasikan cita-citanya, sekaligus menanamkan niat mulia untuk memberi kontribusi positif bagi sesama. Ini bukan hanya soal menempel gambar, tapi soal merangkai doa, niat, dan ikhtiar dalam sebuah kegiatan keluarga yang penuh makna.
Melanjutkan pembangunan fondasi dari Bagian 1, artikel ini menyajikan 'batu bata' dan 'semen' praktisnya. Temukan jurus-jurus jitu yang bisa langsung diterapkan: mulai dari pilihan kata sehari-hari yang membangun kepercayaan diri, jenis pengalaman yang menumbuhkan rasa mampu, hingga rahasia mengapa 'membantu sesama' bisa menjadi obat ampuh bagi rasa minder. Dilengkapi panduan P3K (Pertolongan Pertama pada Kepercayaan Diri) saat anak sedang merasa jatuh, ini adalah panduan lengkap untuk membentuk anak yang kokoh jiwanya.
Apakah anak Anda sering ragu-ragu, terlalu sering minta maaf, atau mudah menyerah sambil berkata "aku nggak bisa"? Itu mungkin bisikan dari 'monster' insecure. Artikel ini tidak menawarkan solusi instan, melainkan mengajak orang tua untuk menjadi 'arsitek' yang membangun 'benteng' pertahanan di dalam hati anak. Bagian pertama ini akan mengupas tuntas dari mana rasa insecure berasal dan bagaimana kita bisa meletakkan tiga fondasi utamanya—cinta tanpa syarat, rumah sebagai zona aman,
Setelah memahami mengapa kemandirian itu penting di bagian pertama, kini saatnya masuk ke panduan praktisnya. Artikel ini adalah 'contekan' yang ditunggu para orang tua, berisi daftar tugas konkret yang sesuai untuk setiap tahapan usia, mulai dari balita 2 tahun yang gemar meniru hingga anak 7 tahun yang siap memegang tanggung jawab. Tak hanya itu, temukan juga formula ajaib langkah-demi-langkah untuk mengajarkan setiap keterampilan baru tanpa drama dan frustrasi. Jangan lewatkan panduan lengkap untuk mencetak generasi "Aku Bisa Sendiri!" yang tangguh dan percaya diri.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More