08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Masih sering bilang 'Sstt.. diam! Jangan nangis!' ke anak? Stop sekarang juga! Tanpa sadar, Anda sedang mencetak generasi 'Zombie Emosi' yang rapuh dan jago memendam dendam. Islam tidak pernah mengajarkan anak untuk anti-air mata, bahkan Nabi pun menangis. Artikel ini akan menampar kesadaran kita tentang bahaya laten membungkam tangisan anak dan kalimat sakti apa yang HARUS diucapkan sebagai gantinya.
Minder liat 'Playroom Montessori' selebgram yang isinya mainan kayu jutaan rupiah? Eits, jangan sedih dulu Bun! Montessori itu filosofi, bukan ajang pamer perabotan. Faktanya, Bunda bisa menerapkan metode ini di rumah dengan modal Rp 0,- alias GRATIS. Dari mencuci beras hingga kardus bekas, temukan 5 Trik Rahasia menyulap rumah jadi sekolah Montessori tanpa bikin dompet menjerit. Baca selengkapnya di sini!
Sayang anak atau meracuni anak? Bedanya tipis! Sering kasih permen atau es teh manis biar anak anteng? Hati-hati Bun, itu sama saja menyuapkan 'Narkoba Legal' ke tubuh mungilnya. Riset membuktikan gula 8x lebih adiktif dari kokain dan jadi biang kerok anak tantrum serta lemot belajar. Stop berlindung di balik kata 'Kasihan'. Artikel ini akan menampar kita dengan fakta pahit: Gula adalah musuh dalam selimut. Berani baca sampai habis dan buang stok jajanan di kulkas?
Tantangan terbesar bagi orang tua adalah: bagaimana cara mendukung anak tanpa menekan? Artikel lanjutan ini adalah panduan praktis tentang seni menjadi "suporter" terbaik bagi anak. Temukan cara menjadi kompas bukan peta, cara memuji usaha bukan hanya hasil, dan yang terpenting, cara mengajarkan anak menyikapi kegagalan dengan tangguh. Pelajari resep jitu untuk menyeimbangkan antara ikhtiar maksimal dan tawakal yang menenangkan, demi mencetak generasi berprestasi yang sehat mental dan spiritualnya.
Setiap orang tua bangga melihat anaknya berprestasi, namun di dunia yang kompetitif, dorongan ini bisa berubah menjadi tekanan yang beracun. Artikel ini mengajak kita untuk menggeser sudut pandang: apa itu "prestasi" yang sejati? Bagian pertama ini akan membongkar makna prestasi di balik sekadar piala dan peringkat, menyoroti bagaimana proses berjuang meraihnya justru menjadi fondasi untuk membangun karakter tangguh, disiplin, dan percaya diri. Temukan mengapa mendukung anak untuk menjadi "versi terbaik dari dirinya" adalah bagian penting dari pendidikan jiwa dan bentuk syukur kepada Sang Pencipta.
Di zaman Google dan AI, untuk apa anak-anak kita bersusah payah belajar "kitab kuning" dari ulama abad pertengahan? Artikel ini menjawab pertanyaan skeptis tersebut bukan dengan dalil yang kaku, melainkan dengan tiga metafora yang indah: mengapa belajar dari kitab klasik itu ibarat membangun pohon dengan akar yang kokoh, menimba air dari sumur yang jernih, dan membaca peta dari sang ahli. Temukan mengapa metode "kuno" ini justru menjadi bekal paling relevan dan kuat bagi anak-anak kita untuk mengarungi derasnya arus zaman modern.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More