08.00 - 16.00
Senin - Jumat
Saat sekolah mulai membiasakan anak berbahasa Inggris, banyak orang tua merasa cemas, "Bagaimana cara mendukungnya di rumah kalau bahasa Inggris saya pas-pasan?" Artikel ini adalah panduan santai yang akan menepis semua kekhawatiran itu. Temukan cara-cara sederhana dan seru untuk menjadi 'partner' belajar bahasa Inggris terbaik bagi anak Anda, bahkan jika Anda tidak fasih sama sekali. Ubah kecemasan menjadi permainan, waktu layar menjadi momen belajar, dan rutinitas harian menjadi petualangan berbahasa yang menyenangkan.
Setelah memahami filosofi "Adab Sebelum Ilmu" di Bagian 1, kini saatnya membumikannya dalam praktik. Artikel lanjutan ini adalah panduan praktis bagi orang tua untuk menanamkan adab dalam momen-momen keseharian anak. Mulai dari adab di meja makan, adab menjaga lisan, hingga adab yang paling utama terhadap guru dan ilmu. Dilengkapi dengan tips cara menegur dengan cinta, artikel ini adalah "buku resep" untuk membantu kita sebagai orang tua dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas otaknya,
Di tengah perlombaan mengejar prestasi akademis, seringkali kita lupa pada fondasi yang paling utama: Adab. Artikel ini akan membawa kita kembali pada prinsip emas para ulama: "Adab Sebelum Ilmu". Bagian pertama ini akan mengupas tuntas mengapa adab bukanlah sekadar sopan santun, melainkan ruh yang membuat ilmu menjadi berkah dan bermanfaat. Temukan mengapa mendahulukan pendidikan adab adalah investasi terbaik untuk dunia dan akhirat anak kita, dan bagaimana peran terbesar dalam proyek mulia ini ada di pundak kita sebagai orang tua.
Memilih sekolah untuk buah hati adalah sebuah ikhtiar dan investasi dunia - akhirat. Artikel ini mengajak Ayah Bunda untuk mengenal lebih dekat Al Lathif Islamic School, sebuah institusi yang tidak hanya mengejar keunggulan akademis, tetapi bertekad membangun fondasi langit dan bumi bagi setiap siswanya. Temukan bagaimana program Tahfidz bersanad yang dibimbing langsung oleh Syaikh dari Palestina, pendidikan karakter Islam yang mendalam, dan program unik "Master Class Day" berpadu untuk menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkan Hafidz Qur'an berakhlak mulia sekaligus individu berprestasi yang siap menghadapi tantangan global.
Setelah berhasil mengenali gejala toxic friendship di Bagian 1, kini saatnya mengambil langkah penyembuhan. Bagian kedua ini adalah panduan praktis yang memberdayakan, menyajikan tiga "jurus sehat" untuk menghadapi pertemanan beracun: mulai dari cara elegan memasang pagar batasan diri (boundaries), strategi mengurangi "dosis racun" secara perlahan, hingga kapan dan bagaimana harus berani mengambil keputusan untuk melangkah pergi. Dilengkapi dengan tips untuk menyembuhkan luka dan mencari lingkungan pertemanan yang lebih baik, artikel ini adalah peta jalan untuk kembali menemukan kedamaian dan harga diri.
Pernahkah anak Anda merasa lelah, cemas, atau lebih rendah diri setelah bermain dengan teman dekatnya? Pertemanan seharusnya memberi energi, bukan mengurasnya. Artikel ini akan membantu orang tua dan anak untuk mengenali tanda-tanda "racun" dalam sebuah persahabatan. Bagian pertama ini akan mengupas tuntas gejala-gejala toxic friendship—mulai dari yang selalu mengkritik hingga yang tak pernah tulus bahagia—dan menyelami alasan psikologis mengapa begitu sulit untuk melepaskannya, dibingkai dalam hadits indah dari Rasulullah SAW tentang teman baik dan buruk.
Mengembangkan Kecerdasan Anak Menuju Generasi Qur’ani Yang Berakhlak Mulia Dan Berwawasan Global Untuk Memenuhi Peran Mereka Sebagai Khalifah Di Muka Bumi.
> Read More